Jejak langah ku telah mengarungi segala hal hingga hari ini. Dari
mulai aku menginjakkan kaki ke dunia luar. Disaat itu petualangan ku di
mulai mencari jati diri yang sesunguhnya. Permulaan dengan bidang-bidang
khusus yang mulai harus di pilih untuk menemukan jati diri.
Beranjak ke tahap dimana pilihan semakin sulit, memilih jurusan di
perguruan tinggi. Sejak melihat rentetan jurusan yang ada di perguruan
tinggi, entah hati ku langsung berbisik dan menentukan pilihan pada
jurusan yang umum disebut Ilmu Komunikasi.
Mulai terbayang dalam benak ku tentang akan menjadi apa aku nanti
saat selesai mengambil jurusan itu. Dari sekian banyak pilihan tentang
profesi yang berhubungan dengan jurusan itu, jiwa ku langsung tertangkap
pada sebuah profesi yang kegiatannya lebih banyak di belakang layar,
yang biasa masyarakat luas sebut sebagai “wartawan”.
Saat itu mulai ada hayalan dalam pikiran ku, andai suatu saat aku
menjadi seorang wartawan. Apa aku bisa menjadi wartawan yang amanah.
Menyampaikan segala informasi dengan transparan ke hadapan publik.
Hayalan itu hadir karena dengan seiring berjalannya waktu, aku
melihat masyarakat makin susah melihat kenyataan yang sebenarnya. Entah
karena memang kurangnya informasi yang sampai ke publik atau ada yang
menahan informasi itu agar tidak sampai ke publik. Tak tahu bagaimana
yang sebenarnya.
Bukan maksud hati ingin berfikir buruk tentang para pencari berita
yang sudah bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya, tapi terdengar
hatiku berkata bahwa ada keinginan untukku mengubah yang tidak baik
menjadi lebih baik lagi.
Bisikan suara hatiku itu rupanya di dengar oleh Allah SWT, sampai
pada akhirnya aku di takdirkan berada di lingkungan sekarang ini, tepat
di program studi “Penerbitan (Juralistik)”. Ilmu yang di dapat sangat
erat kaitannya dengan profesi wartawan.
Dalam menjalaninya sempat ada kebimbangan, apakah iya aku bia menjadi
wartawan yang patuh akan tanggung jawab terhadap semua orang.
Keimbangan ini hadir disaat aku mulai menjajali profesi sebagai seorang
wartawan, biarpun hanya magang tapi aku merasakan kerasnya lapangan yang
sebenarnya.
Namun, aku tidak tahu rencana apa yang sudah Maha Pencipta siapkan
untuk masa depanku nanti. Segala takdir dan ridho-Nya yang menjadikan
masalah kegundahan dan kebimbangan menjadi hilang untukku.
Tulisan ini mengawali isi blog pribadi yang aku miliki. Maafkan bila
banyak ke kurangan baik ejaan maupun kata-kata yang ada di dalam tulisan
ini. Pendapat dan masukan dari para pembaca sangat saya butuhkan untuk
kemajuan dalam hal menulis. Saya akhiri, terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar